Humas dan Kerjasama

Universitas Amikom Purwokerto
  • Spirit
  • Creative
  • Success

Artikel Humas

Mengatasi Masalah Polusi Komuter Jakarta

Universitas Amikom Purwokerto, Kampus Teknologi dan Bisnis Jawa Tengah, Indonesia.

melalui: Delhi Hana, Institut Teknologi Bandung Bandung

Kualitas udara di ibu kota Indonesia sudah buruk. Situasi ini diperburuk oleh emisi kendaraan pulang pergi dari pinggirannya.

Jakarta terkenal dengan kabut asapnya. Jakarta adalah kota besar dengan populasi lebih dari 10 juta, dan biaya kesehatan dari polusi udara Jakarta diperkirakan mencapai Rp 38,5 miliar atau US$ 4,3 juta pada tahun 2010. Namun tidak semua polusi udara berasal dari dalam batas kota.

Sebagian besar polusi udara tercium dari daerah sekitarnya atau diangkut setiap hari ketika komuter tiba di ibu kota. Situasi ini membuat pengelolaan polusi menjadi lebih menantang.

Tidak ada pembangkit listrik tenaga batu bara di dalam batas kota Jakarta; pembangkit listrik Muara Karang di utara Jakarta telah dialihkan ke bahan bakar gas alam sebagai bagian dari rencana netralitas karbon, tetapi masih ada beberapa pembangkit listrik dalam jarak 20 kilometer timur dan 55 kilometer barat perbatasan. Sumber-sumber ini dapat menyumbang sekitar 6% hingga 13% sulfur dalam polusi udara lintas batas di Jakarta.

Polusi udara diperkirakan menyebabkan 123.000 kematian dini di Indonesia setiap tahun, menjadikannya salah satu dari 10 negara terburuk untuk kematian akibat polusi udara. Pada tahun 2010, 57,8% penduduk Jakarta terkena penyakit yang berhubungan dengan polusi udara, termasuk asma, pneumonia, dan penyakit arteri koroner; dan dapat menyebabkan orang Jakarta meninggal 2,3 tahun sebelumnya,

Kabut asap fotokimia biasa terjadi di Jakarta pada hari-hari cerah. Langit kelabu kelabu adalah hasil dari polutan udara yang bereaksi dengan sinar matahari. Dalam suasana Jakarta yang tercemar, di mana sinar matahari berlimpah sepanjang tahun, masyarakat Jakarta telah mengungkapkan keprihatinan mereka. Gugatan warga terhadap polusi udara telah diajukan terhadap pemerintah, menuntut standar emisi yang ketat. Mereka menang pada tahun 2021.

Banyak stasiun pemantau di Jakarta yang mencatat parahnya pencemaran udara. Ozon dan partikel jelaga kasar (PM10) dan halus (PM 2.5) adalah pelanggaran paling umum terhadap standar kualitas udara ambien. Ini juga merupakan polutan umum dalam asap fotokimia.

Jakarta memiliki pekerjaan yang harus dilakukan dalam mengelola emisi di dalam batas-batasnya, terutama dari sektor transportasi. 85% wilayahnya dibangun dan dikemas oleh pembangunan perumahan dan jaringan jalan yang padat. Selain paparan luar ruangan, kedekatan jalan dan rumah dapat meningkatkan risiko kesehatan dari polusi udara karena intrusi polutan udara luar ruangan di dalam ruangan.

85% angkutan bermotor di Jakarta menggunakan mobil pribadi, kurang dari 10% angkutan umum. Statistik untuk tahun 2020 menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di Jakarta lebih dari 20 juta dan terus bertambah. Rata-rata, itu dua mobil per orang.

Selain kendaraan yang terdaftar di Jakarta, emisi komuter juga berdampak pada emisi Jakarta. Sekitar 2,2 juta orang dari kota-kota terdekat di Jawa Barat dan Banten pergi ke Jakarta untuk bekerja; 72% dari mereka bepergian dengan mobil pribadi.

Untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif di Jakarta, koordinasi kebijakan pengurangan emisi dengan yurisdiksi tetangga sedang dijajaki.

Lebih dari 90 persen kendaraan yang diuji memenuhi standar emisi, tetapi akar masalahnya adalah tingginya jumlah kendaraan. Otoritas Transportasi Metropolitan Jabodetabek melaporkan 22 juta perjalanan kendaraan per hari di daerah tersebut.

Seperti di banyak kota di seluruh dunia, beralih ke angkutan massal, yang didukung oleh perencanaan tata ruang berbasis transit, adalah cara untuk menghilangkan banyak polusi udara. Perencanaan ini tidak dapat dilakukan secara independen dari tujuh kota di provinsi tetangga.

Badan tersebut berencana untuk menyelesaikan infrastruktur transportasi umum pada tahun 2024 dan bertujuan untuk mentransfer 60% mobil pribadi ke transportasi umum pada tahun 2030. Tetapi mempromosikan angkutan umum berarti mendorong orang keluar dari zona nyaman lalu lintas dari pintu ke pintu, terutama sepeda motor.

Intervensi lunak lainnya seperti kampanye pendidikan publik dan gamifikasi dapat meningkatkan kesadaran akan polusi udara dan memberikan insentif untuk menggunakan transportasi umum dan tidak bermotor.

Strategi Pengendalian Pencemaran Udara Jakarta juga menekankan penggunaan bahan bakar yang kurang berpolusi seperti gas alam dan listrik di seluruh armada kendaraan umum. Belajar dari pandemi dengan mempromosikan kerja dari rumah ke sektor swasta dapat semakin mengurangi perjalanan; data kualitas udara menunjukkan hal itu efektif dalam mengurangi tingkat polusi udara selama pandemi.

Driejana adalah seorang profesor di Sekolah Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Minat penelitiannya adalah manajemen dan kebijakan kualitas udara; pemantauan kualitas udara; kualitas dan kesehatan udara. Dr. Driejana adalah pakar utama dalam Rancangan Besar Pengendalian Polusi Udara di Jakarta.

Studi ini didanai oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.

Awalnya diterbitkan oleh 360info™ di bawah Creative Commons.

*) Penafian

Artikel yang dipublikasikan di bagian “Pendapat dan Cerita Anda” di situs web en.tempo.co adalah pendapat pribadi dari pihak ketiga dan tidak terkait atau dikaitkan dengan posisi resmi en.tempo.co.

Mahasiswa Humas Universitas Amikom Purwokerto
Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia.

Info Humas dan Kerjasama

Artikel Lainnya

Hari
Jam
Menit
Detik

Pendaftaran Jalur Gelombang 3 (Tiga)

Penerimaan Mahasiswa Baru

Pendaftaran Jalur Gelombang 3 (Tiga)

Hingga 10 September 2022